Bandarmology – Akumulasi Distribusi

Bandarmology

Bandarmology berasal dari kata “Bandar” dan ditambahkan akhiran “-mology” yang dapat diartikan pengetahuan/ilmu, sehingga istilah bandarmology yang sering terdengar dalam perdagangan di pasar saham dapat diartikan ilmu/analisa yang mencoba mengidentifikasi kemana arah perdagangan, atau pergerakan transaksi yang sedang dilakukan bandar/pemain besar pada suatu saham, dengan tujuan untuk mengikuti/menunggangi arah pergerakan bandar tersebut.

Bagi trader yang sudah cukup mengenal pasar saham tentu mengetahui bahwa harga saham saat ini tidak selalu ditentukan oleh supply dan demand yang real, melainkan ada pihak-pihak yang bisa mengendalikan berapa harga saham pada suatu saat. Bagaimana cara mengendalikannya? Dengan jumlah uang yang besar dan jumlah lot saham yang banyak, bandar bisa mempengaruhi sisi supply dan demand secara langsung dan artificial. Selain itu umumnya bandar juga dekat dengan pemilik perusahaan atau pemegang saham mayoritas, atau bahkan merupakan grup/kelompok yang sama, sehingga tidak jarang bandar mempunyai kemampuan untuk mempengaruhi kebijikan-kebijikan diambil oleh management perusahaan, atau paling tidak mengetahui informasi akurat mengenai kondisi internal perusahaan.

Ini alasannya kenapa perusahaan yang laporan keuangannya merugi, atau secara fundamental tidak bagus, atau sudah kemahalan jauh diatas valuasi wajarnya, tetapi harga sahamnya bisa tetap naik. Maupun sebaliknya, perusahaan  yang secara fundamental sebenarnya tidak ada masalah tetapi harga sahamnya bisa dibuat jatuh dalam, sampai tidak jarang para analist harus menebak-nebak apa penyebab penurunan harga saham tersebut. (Dan memang seringnya harga bergerak terlebih dahulu, barulah kemudian orang mencari atau mencocok apa alasannya). Pihak-pihak inilah yang dikenal dengan sebutan Bandar, yaitu pemain besar/market maker yang mampu mengatur arah pergerakan saham. Bandar umumnya tidak bekerja sendirian, melainkan ada group/kelompoknya yang saling terkoordinasi, mungkin kita dengar ada ring 0, ring 1, dst. Kita tidak mengenal siapa bandar tersebut, tetapi kita tahu dia ada, dan pada artikel ini kita akan menggunakan istilah bandar tanpa perlu mengetahui siapa orangnya dan bagaimana wujud maupun penampakannya.

Pada pasar saham Indonesia, kita bisa mengetahui identitas para pelaku transaksi saham, yaitu identitas penjual dan identitas pembeli pada setiap transaksi, sampai dengan level tertentu, yaitu identitas siapa broker/sekuritas yang digunakan, dan juga identitas kewarga-negaraannya baik penjual maupun pembeli, apakah lokal atau asing/foreign. Ini dimungkinkan karena data ini muncul pada setiap transaksi saham yang terjadi, yaitu pada running trade, yang bisa diakses pada semua aplikasi OLT/online trading. Tentu kita tidak bisa mengetahui sampai level per individu siapa nasabah yang melakukan transaksi, karena data ini tidak dibuka ke publik oleh bursa (kecuali jika kita bisa meng-hack masuk ke sistem trading bursa karena data identitas per nasabah sebenarnya ada disimpan di bursa). Namun cukup dari data ini kita bisa membuat analisa mengenai apa yang sedang dilakukan bandar, apakah akumulasi, distribusi, atau malah tidak melakukan apapun (atau istilahnya saham tersebut dicuekin bandar) yang biasa ditandai dengan volume transaksi kecil dan harga yang turun sedikit demi sedikit karena trader retail exit/melakukan cut loss dan ditampung oleh trader retail yang lain.

Pada aplikasi data saham Indonesia terdapat 2 analisa bandarmologi, yaitu:

  • top 5 broker net transaction
  • foreign net transaction (NBSA: Net Buy Sell Asing)

Top 5 broker net transaction – accumulation distribution

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa kita bisa mengetahui data broker yang digunakan oleh buyer maupun seller, maka kita bisa membuat data broker summary, yaitu berapa jumlah transaksi yang dilakukan oleh masing-masing broker, baik jual maupun beli pada suatu saham, dan diurutkan dari nilai terbesar sampai terkecil.

tlkm_broker_summary_20190820

Tabel pada gambar diatas adalah broker summary dimana kita bisa mengetahui broker mana yang melakukan transaksi buy dan sell terbesar pada saham TLKM. Satu broker bisa melakukan transaksi buy dan sell sekaligus, karena broker mewakili banyak trader/investor individual, maupun fund (mutual fund, dll). Contoh pada gambar diatas broker ZP melakukan buy TLKM sebanyak 81.256 lot pada harga rata-rata di 4374.38 rupiah, dan melakukan jual TLKM sebanyak 45.653 lot pada harga rata-rata di 4373.11 rupiah. Sehingga terjadi net buy sebesar 35.603 lot. Dari tabel ini kita bisa membuat 1 tabel lagi yang menampilkan transaksi bersih masing-masih broker, apakah net buy atau net sell.

tlkm_net_broker_summary_20190820

Tabel pada gambar diatas adalah nilai transaksi bersih masing-masing broker, yaitu transaksi buy dikurangi transaksi sell. Jika bernilai positif maka terjadi net buy, dan jika bernilai negatif maka terjadi net sell oleh broker tersebut. Pada tabel diatas sudah bisa dilihat secara sekilas bahwa sedang terjadi akumulasi pada saham TLKM, yaitu jumlah buyer lebih sedikit daripada jumlah seller, yang artinya buyer mengumpulkan barang (akumulasi) dari banyak seller. Tetapi untuk perhitungan top 5 broker accumulation distribution kita hanya fokus pada 5 broker buyer terbesar dan 5 broker seller terbesar (top 5 buyer dan top 5 seller).

Top 5 Broker accumulation distribution merupakan teori akumulasi dengan membandingkan total dari top 5 broker BUY vs. total dari top 5 broker SELL dan menghitung selisihnya. Apabila lebih besar total BUY, maka selisih dari keduanya dicatatkan sebagai akumulasi. Sebaliknya apabila lebih besar total SELL, maka selisih dari keduanya dicatatkan sebagai distribusi. Mengapa menggunakan 5 broker? Ini karena bandar umumnya menggunakan beberapa broker/perantara untuk melakukan transaksi, dan broker ini pun ada kemungkinan bisa berganti-ganti dari hari ke hari. Dalam hal ini kita asumsikan saja bandar menggunakan 5 broker untuk melakukan transaksi, pada kenyataannya tentu bisa berbeda-beda pada setiap saham, dan pada setiap bandar.

Pada gambar diatas kita bisa menghitung top 5 broker accumulation distribution:

top 5 broker = [total buy oleh top 5 buyer] – [total sell oleh top 5 seller]

= [net transaksi RX + CS + ZP + CG + IF] – [net transaksi AK + AI + GR + FZ + DX]

= [213.804] – [151.102]

= 62.702

Terjadi akumulasi sebanyak 62.702 lot saham TLKM oleh top 5 broker net transaction.

Pada aplikasi data saham Indonesia, data ini dihitung secara realtime dan ditampilkan dalam bentuk chart pada layar bandarmology, dan bisa diakses pada timeframe daily, maupun timeframe yang lebih kecil (intraday) antara lain: hourly, 15min, dan 5min untuk keperluan trading cepat.

foreign net transaction (NBSA: Net Buy Sell Asing)

Foreign Flow (NBSA: Net Buy Sell Asing), yang merupakan teori akumulasi distribusi berdasarkan perhitungan Buy Dan Sell yang dilakukan spesifik oleh trader dengan Type F (Foreign)

Nilai akumulasi distribusi asing = [total buy oleh asing] – [total sell oleh asing]

Perhitungan NBSA lebih cocok untuk saham-saham yang diminati oleh asing, yang biasanya juga merupakan saham-saham favorit pada portfolio reksadana/mutual fund.

Data Foreign Flow/NBSA dapat diakses pada layar bandarmology pada aplikasi data saham Indonesia, dan ditampilkan dalam timeframe daily, hourly, 15min, dan 5min untuk keperluan trading cepat.

Cara kerja bandar

Bagaimana cara bandar bekerja mengontrol harga dan mendapatkan profit besar? Berikut ini ilustrasi tentang cara kerja Bandar. Tetapi sebelumnya disclaimer, kami tidak kenal dekat dengan bandar (hanya sebatas tahu beberapa orang yang disinyalir melakukan kegiatan bandar), dan belum pernah berdiskusi langsung dengan seorang bandar tentang bagaimana mereka melakukan aksi goreng saham. Apa yang akan kami sampaikan disini hanyalah model cara kerja bandar yang ada dipikiran kami berdasarkan pengamatan dan pengalaman dalam trading saham. Mungkin model ini mendekati kenyataan, atau malah jauh panggang daripada api atau sama sekali ngga mengena bahkan di kulit-kulitnya, sehingga untuk amannya anggap saja ini cerita fiksi.

Ada dua tipe bandar, sebut saja istilahnya bandar baik dan bandar jahat. Kita akan lebih banyak membahas cara kerja bandar jahat dibawah, dan sedikit saja tentang bandar baik. Bandar baik sebenarnya hanya perantara order transaksi. Proyek dimulai ketika bandar mendapat order/perintah beli atau jual dari salah satu penyandang dana besar atau institusi fund manager pada harga tertentu dan tanggal deadline tertentu, yang ditentukan secara negosiasi antara bandar dan penyandang dana. Kemudian bandar ini akan mulai mengeksekusi order sambil berusaha membeli dibawah harga yang diperintahkan untuk order beli, dan menjual diatas harga yang diperintahkan untuk order jual. Spread atau perbedaan antara harga rata-rata transaksi dan harga perintah order ini akan menjadi profit si bandar, sehingga dia akan berusaha keras untuk mempengaruhi harga agar mencapai level yang diinginkan. Misal jika mendapat order beli, bisa jadi pada awalnya dia akan banting dulu harga ke bawah dengan menjual stok saham milik dia sendiri, baru kemudian mengumpulkan lagi dibawah. Sebaliknya juga untuk order jual bisa jadi awalnya bandar harus menaikkan harga terlebih dahulu.

Pada umumnya siklus akumulasi-distribusi oleh Bandar terdiri atas beberapa fase, antara lain:

  • akumulasi
  • mark-up
  • distribusi
  • mark-down
  • exit

Untuk lebih jelasnya bisa diperhatikan pada chart berikut:

Accumulation - Distribution Chart

Accumulation – Distribution Chart

Sumber: http://stockcharts.com/school/doku.php?id=chart_school:market_analysis:wyckoff_market_analysis

Chart ini menggambarkan siklus akumulasi dan distribusi. Tentunya ini merupakan model yang disederhanakan, pada kenyataannya bentuk chart akan lebih kompleks karena proses akumulasi maupun distribusi dapat terjadi berkali-kali oleh pihak yang berbeda-beda, baik sejalan maupun berlawanan.

Pada fase awal akumulasi, bandar yang memiliki akses informasi lebih baik terhadap suatu saham atau pasar akan mulai mengumpulkan barang. Pada proses akumulasi ini bandar tidak ingin harga saham melonjak naik ketika mulai dikoleksi, oleh karena itu bandar akan melakukannya diam-diam, sedikit demi sedikit, agar tidak terjadi lonjakan pada sisi demand sehingga mempengaruhi harga. Di samping itu bandar juga akan menjaga sisi supply tetap tinggi, caranya dengan memanfaatkan sentimen negatif pasar, mengeluarkan analisa atau berita negatif (dengan modal besar bandar akan dekat dengan broker dan juga management perusahaan, sehingga sangat memungkinkan untuk mempengaruhi hasil analisa/riset/forecast dari suatu saham, maupun langkah-langkah atau kebijakan yang diambil oleh management perusahaan). Proses akumulasi juga tidak harus membeli dari secondary market, mungkin bisa jadi dari repo. Dari sisi pemegang saham proses repo adalah meminjam uang dengan memberikan jaminan saham, tetapi dari sisi bandar terjadi proses kebalikannya: meminjam saham dengan jaminan uang, yang nantinya harus dikembalikan kepada pemilik awal dalam bentuk saham.

Fase akumulasi diakhiri dengan proses mark up, yaitu menaikkan harga dengan cepat untuk menarik pihak-pihak lain untuk ikut dalam transaksi karena tergiur pergerakan harga saham yang liar dan hot. Pada saat ini rumor mulai dihembuskan kepada ring-1 bandar, yang masih merupakan kaki tangan bandar, bahwa saham X sedang ada hajatan untuk di goreng, silakan ambil posisi. Seiring pergerakan harga, rumor semakin lama semakin menyebar.

Selanjutnya akan terjadi fase distribusi dimana harga bergerak relatif sideways, volume transaksi masih besar, terjadi beberapa kali koreksi dalam, namun beberapa kali juga akan kembali lagi ke titik tertingginya. Dimana yang terjadi adalah bandar membuang barang untuk take profit, namun juga tetap harus menjaga harga agar tidak jatuh menembus level psikologis tertentu sehingga tidak menghilangkan minat beli. News mulai dikeluarkan untuk semakin memancing minat beli untuk orang-orang yang ketinggalan kereta yang tidak sempat ikut pada fase markup. Ini sebabnya ada istilah: buy on rumor, sell on news. Karena pada saat news keluar maka ada petanda pesta sudah hampir selesai (dan bandar perlu banyak orang untuk bersih-bersih dan cuci piring).

Di akhir fase distribusi bandar akan memiliki sedikit sisa barang, untuk saham-saham yang dikuasai bandar secara dominan atau tidak ada bandar lain yang menjadi lawan seimbang. Maka bandar bisa menjatuhkan harga dengan cara membanjiri pasar dengan barang, sehingga sesuai dengan hukum supply and demand dimana supply berlebih dan tidak ada demand maka harga akan jatuh. Jatuhnya harga akan semakin membuat panik trader dan sebagian akan melakukan cut loss sehingga akan semakin menjatuhkan harga. Proses mark-down ini dilakukan agar bandar bisa melakukan akumulasi lagi diharga yang murah pada proses akumulasi berikutnya. Terutama jika saham tersebut adalah pinjaman, maka bandar memiliki kewajiban untuk mengembalikan kepada pemiliknya dalam bentuk saham.

Pada skenario dimana bandar tidak harus melakukan akumulasi lagi di harga bawah, maka bandar akan exit/meninggalkan saham tersebut. Pergerakan harga saham akan terlihat lesu, sepi seperti di kuburan, volume kecil, dan harga semakin lama semakin menurun karena transaksi akan didominasi oleh investor nyangkut yang melakukan cut loss. Inilah yang terjadi pada banyak saham yang harga nya parkir di gocap (tetapi kalau sudah sampai gocap akan sangat susah untuk exit). Pada suatu waktu tidak menutup kemungkinan setelah 5 atau 10 tahun bandar lama, maupun bandar baru, bisa saja kembali masuk ke dalam saham tersebut dan kembali meramaikan perdagangan, memulai siklus hajatan selanjutnya. Biasanya disertai dengan rumor bahwa perusahaan akan diakuisisi, atau melakukan corporate action, atau menemukan bisnis baru.

Bagaimana menghindari kerugian besar akibat aksi goreng saham oleh bandar, dan malah bisa menunggangi aksi bandar tersebut untuk mendapat profit pada saham gorengan? Pertama jangan ikut trading pada saham-saham yang bandar nya tidak ada lawan, artinya saham tersebut dikuasai oleh satu bandar itu sendiri. Lebih baik salurkan energi anda untuk menganalisa saham-saham lain yang memang ada valuasinya. Bahkan data bandarmologi juga tidak terlalu membantu untuk saham-saham ini karena bandar dengan mudah memanipulasi perhitungan bandarmologi, karena bandar juga mengetahui teknik perhitungan bandarmologi. Ada 2 pengecualian untuk kasus ini yaitu 1. kalau anda kenal dekat dengan seorang kaki tangan bandar dan mendapat info langsung dari orang itu, disini artinya kita me-monetize relasi kita dengan bandar. dan 2. memang anda ingin gambling dan tidak masalah dengan kehilangan 100% uang anda pada saham tersebut (dan jumlah yang anda sisihkan untuk trading saham tersebut juga tidak seberapa dibanding total harta kekayaan anda). Tidak ada yang salah dengan gambling, boleh-boleh saja terutama mengingat saham adalah salah satu media gambling yang LEGAL di Indonesia (sebenarnya semua hal bisa dijadikan gambling tetapi tidak semua mudah dilakukan dan legal). Tetapi yang bisa jadi salah adalah jika kita gambling tetapi tidak sadar sedang gambling, ini bahaya.